Home > Ekonomi, Islam, Politik dan sejarah > Membandingkan tingkat toleransi antarnegara

Membandingkan tingkat toleransi antarnegara

Melanjutkan dua tulisan sebelumnya (baca di sini dan di sini), kali ini saya akan membahas dua indeks yang mengukur toleransi dan membandingkan tingkat toleransi di Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Kedua indeks ini telah dipublikasikan di dua jurnal bisnis bereputasi internasional dan data mentahnya sama-sama bersumber dari World Values Survey (WVS).

Indeks pertama (Global Tolerance Index, GTI) dibuat tahun 2008 oleh tiga ekonom dari Elon University, Amerika Serikat. Sementara indeks kedua (Global Social Tolerance Index, GSTI) baru saja diterbitkan tahun 2016 lalu dan ditulis oleh tiga peneliti dari Florida International University dan University of North Carolina at Greensboro, Amerika Serikat. Jika pembaca tidak bisa mengakses artikel dari kedua alamat web tersebut, coba unduh artikelnya di sini dan di sini.

GTI memakai respons dari empat pernyataan WVS wave 4 tahun 1999-2004 berikut ini:

  1. Saya tidak ingin bertetangga dengan orang beda ras
  2. Saya tidak ingin bertetangga dengan imigran/pekerja asing
  3. Saya tidak ingin bertetangga dengan orang homoseksual
  4. Penting bagi anak untuk belajar toleransi dan menghargai orang lain

Respons dari keempat pernyataan tersebut memiliki bobot yang sama, artinya keempat hal tersebut dianggap sama pentingnya. Skor GTI yang rendah mengindikasikan tingkat toleransi yang lebih tinggi.

Sementara itu GSTI dibuat dengan lebih komprehensif dengan memasukkan empat faktor sebagai komponen pembentuknya: gender, minoritas, imigrasi, dan agama. Indeks untuk faktor agama diukur berdasarkan empat pertanyaan/pernyataan berikut ini dari WVS wave 5 2005-2007:

  1. Apakah gereja (diganti ‘otoritas agama’ untuk negara non-Kristen) memberi jawaban yang cukup untuk masalah keluarga?
  2. Apakah gereja (diganti ‘otoritas agama’ untuk negara non-Kristen) memberi jawaban yang cukup untuk masalah sosial yang dihadapi?
  3. Orang yang punya keyakinan agama yang kuat lebih tepat menduduki jabatan publik
  4. Politisi yang tidak percaya kepada tuhan tidak tepat menduduki jabatan publik

Makin tinggi skor GSTI mengindikasikan tingkat toleransi yang lebih tinggi.

Perlu dicatat bahwa berdasarkan keempat pertanyaan di atas, faktor ‘agama’ yang dimaksud bukan terkait toleransi kepada pemeluk agama lain, namun toleransi kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan atau otoritas agama. Pembaca yang ingin mengetahui apa saja pertanyaan yang digunakan untuk membentuk ketiga faktor lainnya bisa langsung membaca artikel yang saya kutip di atas.

Berikutnya, kedua indeks toleransi tersebut digabung dengan data penduduk muslim per negara yang menghasilkan dua diagram scatterplot yang pembaca pasti sudah cukup familiar. Dot dengan teks warna hijau mengindikasikan negara mayoritas muslim dan garis vertikal merah menunjukkan rata-rata skor GTI/GSTI.

Indonesia (dan hampir semua negara mayoritas muslim) memiliki skor GTI di atas rata-rata (gambar 1), yang artinya tingkat toleransi di mayoritas negara muslim rendah. Akan tetapi Begitu lebih banyak variabel yang dimasukkan, tingkat toleransi (yang diukur dengan GSTI) dari seluruh negara mayoritas muslim terjun bebas masih tetap rendah (gambar 2). Bisa disimpulkan bahwa perbedaan cara mengukur ‘toleransi’ berdampak besar pada hasil akhir yang diberikan.

gti

Gambar 1. GTI

gsti

Gambar 2. GSTI

Apabila kita cermati rata-rata nilai komponen pembentuk GSTI (gambar 3), tampak bahwa gender dan agama merupakan dua faktor utama yang memisahkan Indonesia dengan rata-rata negara mayoritas muslim lainnya. Hanya dua negara mayoritas muslim lainnya yang lebih ‘alergi’ terhadap ateisme dibandingkan Indonesia: Mali dan Maroko. Karenanya tidak mengherankan jika komunisme (yang diidentikkan dengan ateisme oleh banyak masyarakat Indonesia) masih menjadi fobia. Begitu pula untuk gender, jika dibandingkan negara mayoritas muslim lainnya, toleransi masyarakat Indonesia terhadap perempuan sangat tinggi dan hanya kalah tipis dengan Turki.

gsti_indo

Gambar 3. Faktor pembentuk GSTI (Indonesia dan negara mayoritas muslim lainnya)

Akhir kata, saya ingin menggarisbawahi perlunya kewaspadaan kita dalam memakai dan mengukur sebuah variabel bernama ‘toleransi’. Kedua indeks menunjukkan bahwa tingkat toleransi di negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia, masih rendah. Indonesia menempati peringkat ke-9 dari bawah menurut GTI maupun GSTI. Meskipun demikian, sebagai orang yang terdidik, kita tidak cukup hanya melihat hasil akhirnya (angka indeks), namun harus sadar bagaimana indeks tersebut dibuat dan berpikir apakah indeks ini cerminan yang tepat bagi konsep ‘toleransi’ yang kita maksud.

Seseorang yang yakin bahwa masyarakat muslim secara umum bersifat toleran mungkin akan mendapatkan justifikasinya dari indeks yang pertama (GTI). Begitu pula sebaliknya, mereka yang pesimis atau sinis dengan toleransi di negara mayoritas muslim akan memperoleh justifikasinya dari GSTI.

** UPDATE PENTING 17 MEI 2017 **

Saya melakukan kesalahan dalam menafsirkan GTI. Skor GTI yang rendah seharusnya berarti tingkat toleransi yang tinggi. Konsekuensinya, hampir semua negara mayoritas muslim memiliki tingkat toleransi yang rendah, baik itu diukur dengan GTI maupun GSTI. Tulisan di atas sudah disesuaikan dengan definisi yang tepat dan bagian utama yang diedit ditulis dalam warna merah. Terima kasih dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. May 19, 2017 at 9:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: