Home > Ekonomi, Islam, Politik dan sejarah > Mendidik tentang toleransi sejak kecil itu penting!

Mendidik tentang toleransi sejak kecil itu penting!

Judul yang sangat klise, bukan? Tentu ada banyak faktor yang punya potensi menjelaskan rendahnya toleransi di Indonesia. Misalnya, sejarah pertikaian antargolongan, lemahnya penegakan hukum, dan pendidikan. Namun kali ini saya hanya ingin melihat faktor yang disebut terakhir, terutama terkait dengan penanaman pendidikan toleransi di rumah, dengan melihat data dari World Values Survey (WVS).

Pada rentang 2005-2007 The World Values Survey menyurvey 99 negara, termasuk Indonesia, mengenai berbagai nilai (values) yang dianggap punya dampak pada kehidupan sosial dan politik. Contoh nilai-nilai ini, misalnya, terkait dengan keluarga (jumlah anak ideal, resep keluarga bahagia, …), politik (demokrasi, partai politik, …), dan kehidupan (agama, toleransi, …).

Tidak semua 99 negara tersebut menjawab pertanyaan yang sama. Misalnya, hanya responden di 58 negara yang diminta menyebutkan (maksimum) lima kualitas yang dianggap paling penting untuk dipelajari anak di rumah. Terdapat 10 kualitas yang dapat dipilih:

  1. Kemandirian
  2. Kerja keras
  3. Rasa tanggung jawab
  4. Imajinasi
  5. Toleransi dan hormat kepada orang lain
  6. Hemat
  7. Determinasi, keteguhan
  8. Keyakinan beragama
  9. Tidak egois
  10. Kepatuhan

Gambar 1 berikut ini merangkum urutan kualitas yang diharapkan untuk dipelajari anak di rumah dari 58 negara yang disurvey. Angka di tiap ujung balok menunjukkan rata-rata proporsi responden yang memilih kualitas tersebut. Misalnya, angka 0,72 menunjukkan bahwa, secara rata-rata, 72% responden dari 58 negara tersebut memilih rasa tanggung jawab sebagai salah satu kualitas yang diharapkan untuk dipelajari anak di rumah. Sebaliknya, hanya 23% responden yang menganggap imajinasi sebagai kualitas yang penting.

bar_importance

Gambar 1. Rata-rata proporsi kualitas pilihan responden

Lalu di mana posisi Indonesia? Lima kualitas yang dianggap paling penting dipelajari anak oleh 1625 responden dari Indonesia adalah: keyakinan beragama (89%), rasa tanggung jawab (80%), kemandirian (80%), kerja keras (53%), dan toleransi dan hormat kepada orang lain (50%).

Tingginya keyakinan beragama ini tidak mengherankan mengingat sila pertama Pancasila dan proporsi penduduk muslim yang sangat besar. Angka toleransi juga tampaknya cukup tinggi, meskipun jelas lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia. Namun akan kita lihat bahwa angka ini sebenarnya rendah, bahkan setelah kita bandingkan dengan negara mayoritas muslim lainnya.

Gambar 2 berikut ini (mirip dengan dua scatterplot yang saya tampilkan di tulisan saya sebelumnya) menggambarkan:

  1. proporsi pemeluk agama Islam terhadap total responden (sumbu vertikal)
  2. rata-rata responden yang memilih toleransi sebagai kualitas yang penting dipelajari anak (sumbu horizontal)

Terdapat sembilan negara (warna hijau) yang mayoritas muslim (>50% responden mengaku muslim), semuanya memiliki skor toleransi yang lebih tinggi dari Indonesia.

tolerance_50

Gambar 2. Toleransi penting dan proposi muslim

Garis vertikal merah menunjukkan rata-rata 58 negara (70%). Bagi yang penasaran dengan negara mana yang di ujung kiri bawah, itu adalah Hong Kong (hanya 14% yang menganggap toleransi itu penting). Tapi jangan berprasangka buruk dulu, skor Hong Kong untuk toleransi meningkat tajam menjadi 69% pada WVS gelombang berikutnya (2010-2014), yang sayangnya Indonesia tidak termasuk negara yang disurvey.

Apabila kita membuat gambar serupa tapi dengan menggabungkan dua gelombang WVS, 2005-2007 dan 2010-2014, hasilnya ternyata tidak jauh berbeda (Gambar 3). Terdapat 18 negara mayoritas muslim dan hanya Lebanon yang skornya sedikit di bawah Indonesia (47%). Andai pembaca lupa, Lebanon terletak di Timur Tengah, mengalami konflik internal pada tahun 2008, dan pada tahun 2013 menampung lebih dari setengah juta pengungsi Suriah. Indonesia tidak mengalami krisis sektarian seperti Lebanon, namun tetap saja respondennya masih tidak memprioritaskan toleransi sebagai kualitas yang penting dipelajari anak di rumah.

tolerance_50_all

Gambar 3. Toleransi penting dan proposi muslim (dua gelombang WVS)

Setelah melihat data-data ini, pertanyaan berikutnya adalah apakah kita lalu harus ‘mengorbankan’ kualitas lain (keyakinan beragama?) demi toleransi? Tidak. Ingat, kesepuluh kualitas yang ditanyakan dalam survey ini bermanfaat. Imajinasi, misalnya, sangat penting bagi proses kreatif dan ilmiah. Tanpa memupuk rasa imajinasi sedari kecil sulit bagi saya untuk membayangkan kemajuan teknologi.

Menurut saya, kuncinya adalah ketumpangtindihan (overlap), tidak mutually exclusive, dari 10 kualitas tersebut. Keyakinan beragama dalam Islam, misalnya, bersinggungan dengan toleransi dan kepatuhan. Singkatnya, jika kita meyakini kebenaran agama, maka ajarkanlah agama kepada anak kita, namun jangan lupakan bahwa ada nilai-nilai universal yang terkandung dalam kitab suci yang kita yakini.

Terakhir, tulisan ini hanya sebuah pancingan bagi pembaca untuk meneliti lebih lanjut mengenai permasalahan toleransi, terutama di Indonesia. Ini juga hanya satu tulisan di blog; jangan tanya nilai jurnalistiknya, apalagi nilai akademisnya. Tidak ada metode statistik yang ndakik-ndakik yang dipakai. Hanya angka rata-rata saja, tidak ada prediksi, sample selection, apalagi klaim sebab-akibat. Grafik dan statistik yang ditampilkan begitu sederhana hingga anak SMA pun bisa membuatnya. Harapannya, ada peneliti atau calon peneliti (mahasiswa) yang tertarik memakai data WVS dalam penelitian atau studinya dan bisa melakukan analisis yang lebih robust. Oya, sebagai informasi, The World Values Survey saat ini sedang mengumpulkan data terbaru (wave 7) yang baru akan dirilis datanya tahun 2020. Mari kita tunggu dan manfaatkan!

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. May 16, 2017 at 7:40 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: