Home > Ekonomi, Islam, Politik dan sejarah > Potret toleransi beragama di Indonesia

Potret toleransi beragama di Indonesia

Frase “politik identitas” sekarang sedang menjadi tren. Perbincangan mengenai topik ini, terutama yang dikaitkan dengan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta lalu, tak jarang yang mengaitkannya dengan toleransi beragama.

Sayangnya, saya jarang melihat argumen yang disampaikan dengan data yang representatif. Untuk mengisi kesenjangan ini, saya ingin menyajikan sekelebat informasi mengenai toleransi di Indonesia berdasarkan survei BPS tahun 2014 mengenai ketahanan nasional. Survei ini menanyakan, diantaranya, tentang sikap terhadap mereka yang berbeda agama:

  • Apakah Anda setuju jika anak Anda bersahabat dengan orang lain yang berbeda agama?
  • Apakah Anda setuju jika anak Anda menikah dengan orang dari agama lain?
  • Jika ada sekelompok orang dari agama lain yang melakukan kegiatan di lingkungan sekitar tempat tinggal, bagaimana tanggapan Anda?
  • Bagaimana tanggapan Anda jika ada atau akan dibangun tempat ibadah agama lain di lingkungan sekitar tempat tinggal Anda?

Jawaban diberikan dalam rentang 1 (tidak setuju) hingga 4 (sangat setuju).

Agar pembaca tidak bosan, saya hanya akan menampilkan dua gambar saja berdasarkan jawaban kepala rumah tangga dari keempat pertanyaan di atas.

Gambar 1 di bawah menunjukkan persentase rumah tangga yang setuju/sangat setuju jika ada atau akan dibangun tempat ibadah agama lain di lingkungan tempat tinggal menurut provinsi. Rata-rata hanya 23,65% rumah tangga yang setuju/sangat setuju dengan ini.

tempatibadah

Gambar 1. Tempat ibadah beda agama di lingkungan

Saya tidak tahu perbandingannya dengan negara lain, tapi bagi saya angka rata-rata 23,65% ini cukup rendah. Ingat juga bahwa pertanyaan yang diajukan cukup umum, tidak khusus menyinggung tempat ibadah agama tertentu, apalagi sekte agama tertentu. Tidak juga disinggung mengenai apakah ada izin atau tidak. Bahkan pertanyaannya juga mencakup tempat ibadah yang sudah ada, bukan hanya membayangkan apabila akan dibangun sebuah tempat ibadah.

Sementara itu gambar 2 menunjukkan scatterplot dari:

  1. proporsi pemeluk agama Islam terhadap total populasi (sumbu vertikal) yang diambil dari Sensus Penduduk 2010;
  2. indeks toleransi yang merupakan rata-rata skor dari respons keempat pertanyaan mengenai agama di atas (sumbu horizontal)

Sembilan dari 17 provinsi yang nilai indeks toleransinya di atas rata-rata (warna merah) adalah provinsi-provinsi yang proporsi pemeluk agama non-Islamnya paling tidak 25% dari total penduduk. Artinya, dominasi warga muslim berkorelasi dengan rendahnya tingkat toleransi beragama di provinsi tersebut. Korelasinya sangat tinggi, -0,69.

scatter_toleransi

Gambar 2. Toleransi dan pemeluk agama Islam

Tentu saja ini semua hanya sebuah potret (tiga tahun lalu!), bukan sebuah kesimpulan akhir. Tapi dari potret ini kita sudah sepatutnya untuk khawatir. Bagaimana tidak? Jika politik identitas adalah pupuk bagi sikap intoleran, maka intoleransi akan (atau sudah?) mudah untuk tumbuh subur di masyarakat kita yang sudah memiliki bibit intoleransi beragama yang tidak sedikit.

Terakhir, sikap bertoleransi adalah tanggung jawab siapapun. Namun fakta bahwa provinsi yang mayoritas muslim memiliki tingkat toleransi yang rendah menunjukkan bahwa pekerjaan rumah terbesar dimiliki saya dan kita yang mengaku beragama Islam.

*

Laporan lengkap dari Statistik Modal Sosial 2014 bisa diunduh di sini.

** UPDATE 13 MEI 2017 **

Menanggapi banyaknya komentar mengenai pertanyaan menikah beda agama, saya ingin menambahkan beberapa informasi dan pendapat pribadi.

BPS tidak menjelaskan secara khusus kenapa persoalan menikah beda agama ditanyakan. Dalam publikasinya di halaman 39, mereka hanya mengomentari bahwa,

“Sikap menentang pernikahan berbeda agama tersebut didasari atas sikap religi bangsa Indonesia yang cukup kuat, dimana nilai agama yang dianut oleh Bangsa Indonesia memiliki norma yang mengatur untuk tidak menikah dengan orang yang berbeda iman.”

Dugaan saya, yang mungkin saja salah, adalah relatif fleksibelnya agama di luar Islam (misalnya dalam agama Katolik, Hindu, dan Buddha) dalam menanggapi pernikahan beda agama. Jika pertanyaan ini dikecualikan, bisa jadi attitude terkait toleransi yang coba ditangkap menjadi tidak lengkap.

Lalu apa yang terjadi jika pertanyaan mengenai pernikahan beda agama dikecualikan? Rata-rata tingkat toleransi meningkat dari 2,02 menjadi 2,23. Angka ini masih rendah karena angka 2 merujuk pada jawaban “Kurang setuju”. Selain itu meskipun angka korelasi sedikit turun (secara absolut) dari -0,69 menjadi -0,59 (gambar 3), namun angka korelasi ini masih cukup tinggi.

scatter_toleransi_nonikah

Gambar 3. Toleransi (excl. nikah beda agama) dan pemeluk agama Islam

Advertisements
  1. dharendra
    May 16, 2017 at 1:25 am

    Dab, kalo senggang boleh dieksplorasi untuk data urban rural

    • May 16, 2017 at 9:45 pm

      nanti ya, aku lagi nyiapin tulisan keempat religious restrictions dan kekerasan nih … lebih seru.

  1. May 14, 2017 at 3:30 pm
  2. May 16, 2017 at 7:40 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: