Home > Ekonomi > Kenapa skripsi seharusnya tidak diwajibkan (bagian kedua)

Kenapa skripsi seharusnya tidak diwajibkan (bagian kedua)

Melanjutkan argumen sebelumnya kenapa skripsi seharusnya tidak diwajibkan, kali ini saya ingin melihat isu ini dengan memakai pendekatan lain. Bayangkan tingkat kemampuan mahasiswa (dalam menyelesaikan skripsi) terdistribusi normal seperti di Gambar 1, ada yang kurang pintar (sisi kiri) dan ada yang sangat pintar (sisi kanan).

normal1

Gambar 1

Nah, andaikata ada dosen penguji yang merasa bahwa skripsi yang diuji masih buruk, namun tetap diluluskan, artinya standar yang diterapkan masih rendah (misalnya di titik A di Gambar 2). Jika ini terjadi, artinya universitas meluluskan sebagian mahasiswa yang kemampuannya di bawah rata-rata. Agar standar ini bisa ditingkatkan, maka dosen penguji harus konsisten dalam memberi penilaian dalam ujian skripsi. Jika memang bagus ya diluluskan, jika jelek ya tidak diluluskan.

normal2

Gambar 2

Sementara itu cara kedua yang bisa ditempuh adalah dengan mengestimasi tingkat kemampuan mahasiswa lalu memberi batas minimum bagi mahasiswa yang ingin mengambil skripsi. Estimasi tingkat kemampuan misalnya diukur dengan memakai IPK. Jadi hanya mahasiswa dengan minimal IPK tertentu yang bisa mengambil skripsi (titik B di Gambar 3).

normal3

Gambar 3

Masing-masing metode memiliki kekurangan sendiri-sendiri. Masalah dari cara pertama adalah memonitor konsistensi dari dosen penguji. Misalnya, apakah proses ujian skripsi harus direkam lalu diamati oleh tim independen? Selain mahal, masalah lainnya adalah bagaimana mengukur konsistensi ini?

Sementara itu masalah dengan metode kedua adalah ketepatan penggunaan IPK sebagai alat ukur kemampuan akademis. Selain itu, bagi sebagian mahasiswa yang nilainya di atas ambang minimal, kewajiban skripsi mungkin malah dianggap sebagai beban.

Menurut pendapat saya, pilihan kedua memiliki potensi keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan pilihan pertama. Isu pengukuran kemampuan bisa diantisipasi dengan memakai kombinasi ukuran, misalnya IPK minimal 3,5 dan mendapat nilai minimal A- di kelas Metodologi Penelitian. Sementara isu skripsi = beban bisa diantisipasi dengan membuat proses penulisan skripsi sebagai sesuatu yang istimewa (privileges). Misalnya dengan memberikan akses data yang lebih luas, akses ke dana penelitian, sertifikat tambahan di luar ijazah, ikut serta sebagai pembicara seminar, dst. Sementara mereka yang tidak memenuhi syarat menulis skripsi hanya menjalani perkuliahan biasa di kelas. Dengan kata lain, skripsi adalah barang mewah.

Pada saat ini sebagian besar kampus masih memakai jalan tengah: skripsi tetap diwajibkan namun ada ukuran yang baku yang diacu seperti kualitas isi skripsi dan kemampuan presentasi. Hasil dari pengukuran inilah yang kemudian menjadi nilai skripsi. Problemnya, seberapa sering sih pemberi kerja melihat nilai skripsi mahasiswa? Apabila saat ini nilai skripsi masih belum memberi sinyal yang jelas kepada pemberi kerja mengenai kemampuan sang mahasiswa, alangkah baiknya universitas memperbaiki sinyal ini dengan memperketat siapa saja yang berhak menulis skripsi. Dengan demikian, harapannya nanti pemberi kerja akan bertanya seperti ini saat wawancara, “Wah kamu nulis skripsi ya? Coba ceritakan bagaimana skripsimu bisa membantumu diterima kerja di sini!”

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: