Home > Ekonomi > Salah kaprah ‘Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya’

Salah kaprah ‘Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya’

Selain salah kaprah dalam menjelaskan Hukum Say, telah lebih dulu ada kekacauan yang mewabah di pengajaran ilmu ekonomi, yaitu ‘Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya’. Bagaimana penjelasannya?

Istilah (yang salah) ini bermaksud baik, yaitu menjelaskan konsep kelangkaan (scarcity) yang dihadapi manusia. Menurut ekonom mainstream/ortodoks, kelangkaan barang dan jasa memaksa economic agent untuk memilih kombinasi barang dan jasa yang paling optimal.

Dalam konteks produksi, misalnya, ‘optimal’ artinya kombinasi tersebut akan menghasilkan sejumlah unit barang tertentu. Sementara dalam konteks konsumsi, ‘optimal’ artinya kombinasi barang (yang dikonsumsi) tersebut akan menghasilkan kepuasan (utility) dalam tingkat tertentu. Lalu, baik dalam konteks produksi maupun konsumsi, kombinasi barang dan jasa yang dibeli itu tentu harus dibayar oleh si economic agent (produsen/konsumen).

Juga tidak kalah penting adalah keterbatasan dalam barang dan jasa yang digunakan tersebut. Misalnya, mesin pabrik tentu tidak bisa nyala selama sebulan tanpa henti, pekerja tidak boleh bekerja tanpa istirahat, dan waktu dalam sehari tidak bisa lebih dari 24 jam.

Nah, dari sinilah kesalahkaprahan tersebut muncul. Dengan segala keterbatasannya, kombinasi barang dan jasa yang dibayar economic agent itu untuk menghasilkan sejumlah unit barang tertentu, atau kepuasan dalam tingkat tertentu, bukan dalam tingkat tak terbatas (‘sebesar-besarnya’). Artinya, si economic agent tidak bisa seenaknya menargetkan profit, kepuasan, atau produksi di awang-awang tapi tidak mau mengorbankan sumber dayanya.

Karena istilah ini tampak sederhana, maka tidak heran apabila istilah ini menjadi jargon populer yang kadang digunakan untuk mengkritik praktek kapitalisme yang memunculkan ketimpangan. Misalnya, perusahaan berdalih bahwa ‘Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya’, maka para pekerja dipaksa bekerja dengan jam kerja panjang dan tidak manusiawi (sweatshop). Padahal jika isunya adalah jam kerja panjang, maka ini lebih condong ke masalah regulasi ketenagakerjaan (misalnya Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 77-85).

iphonee5ss

iPhone 5(Sweatshop)

Kabar baiknya, waktu saya menjadi pembimbing siswa SMA untuk olimpiade ekonomi nasional 2014 dan 2015, para pendidik guru (dosen pendidikan ilmu ekonomi di UNY) sudah sangat sadar akan kesalahkaprahan ini dan berusaha memperbaikinya. Kabar buruknya, paling tidak sejak saya SMA (sekitar tahun 2000), istilah ‘Dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya’ ini sudah ada entah sejak kapan. Akibatnya, hingga kini masih ada saja ‘generasi lama’ (atau ‘generasi baru’ yang kurang paham) yang masih memakai istilah ini.

Terakhir, konsep kelangkaan ini adalah satu topik besar dalam ilmu ekonomi yang menjadi batu pijakan bagi ekonom mainstream/ortodoks/neoklasik. Namun, sejumlah ekonom heterodoks, terutama dari kelompok post-Keynesian seperti Piero Sraffa dan Nicholas Kaldor, justru mencoba mengesampingkan isu kelangkaan (scarcity) dan mengajukan isu keberlimpahan (abundance) melalui konsep reproducibility. Makin menarik, ‘kan?

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. February 26, 2017 at 3:21 pm

    setiap orang yang berbisnis mau nya sih seperti itu dengan modal sekecil-kecilnya, dan kalau ada yang seperti itu, kenapa tidak?
    tapi kayaknya sulit ya?
    thank

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: