Home > Islam > Ternyata orang Indonesia itu kurang saleh!

Ternyata orang Indonesia itu kurang saleh!

Pertama, mohon maaf untuk judulnya yang lebay.

Kedua, beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis status (yang disertai screenshot) di Facebook mengenai kesalehan (religiosity) orang Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara mayoritas muslim lainnya berdasarkan survei oleh Hassan (2007). Dalam survei tersebut, Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Mesir termasuk negara muslim yang memiliki komitmen religius yang kuat; lebih kuat dibandingkan Iran, Turki, dan Kazakhstan.

Sayangnya, tidak tersedia informasi untuk publik dari survei ini, termasuk rincian per wilayah di Indonesia.

Namun, kita beruntung karena dalam gelombang terakhir Indonesia Family Life Survey (IFLS5) terdapat dua pertanyaan yang menyasar kepada kesalehan individu, khususnya bagi responden yang mengaku beragama Islam:

  1. How many times do you pray each day?
  2. Did you attend/participate in pengajian/taklim/ceramah (prayer/religious meetings) in the past 12 months?

Dari dua pertanyaan ini saya ternyata bisa mendapatkan gambaran yang cukup menarik mengenai kesalehan orang Indonesia, meskipun hanya terbatas pada ritual religiosity, yang bisa menjadi pembanding bagi survei Hassan (2007).

Jumlah salat

Bagian mengenai jumlah salat per hari diketahui melalui dua cara: pertama, responden dapat menuliskan jumlahnya, atau; kedua, responden cukup menyatakan bahwa salat itu tidak dilakukan tiap hari, atau bahkan tidak sama sekali.

ifls_salat

Dari mereka yang menulis jumlah salat per hari (diagram warna biru dalam gambar di atas), secara rata-rata muslim Indonesia beribadah 5.15 kali sehari. Namun, apabila data tersebut disesuaikan (diagram warna oranye) dengan memasukkan mereka yang tidak salat tiap hari maupun yang tidak sama sekali, maka (tidak mengherankan) jika rata-ratanya turun menjadi 4.7 kali per hari.

Dalam dua diagram batang di atas, yang menarik untuk disoroti adalah selisih jumlahnya. Sebagai contoh, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki rata-rata jumlah salat tertinggi kedua, namun setelah angkanya disesuaikan, ternyata rata-ratanya jatuh hingga hanya menempati peringkat ke-7. Artinya, di provinsi ini, proporsi mereka yang tidak salat tiap hari relatif besar (14%) dibandingkan dengan 13 provinsi lainnya (5%). Hal serupa dialami Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Sumatera Utara.

Jumlah mengikuti pengajian

Berbeda dengan pertanyaan mengenai frekuensi jumlah salat, pertanyaan mengenai jumlah mengikuti pengajian ini baru muncul dalam IFLS5.

ifls_pengajian

Menarik untuk dilihat bahwa terdapat variasi yang cukup besar antarprovinsi.

Kesalehan ritual individu

Hasil yang menarik yang dapat kita tangkap dari kedua ukuran di atas adalah rendahnya korelasi (-0,03) antara frekuensi salat dengan jumlah mengikuti pengajian. Padahal, di dalam Islam diajarkan pentingnya literasi dalam beragama. Oleh karena itu saya membuat sebuah ukuran yang mengidentifikasi kesalehan seseorang berdasarkan dua kriteria, yaitu orang tersebut saleh jika:

  • salat minimal lima kali sehari
  • pergi ke pengajian minimal sekali sebulan

Tentu kriteria ini sangat subjektif dan bahkan mungkin bukan pada tempatnya bagi saya untuk menilai kesalehan orang lain. Namun demi adanya ukuran yang jelas dan transparan, boleh kiranya saya memakai ukuran ini untuk sekadar memenuhi rasa ingin tahu.

ifls_kesalehan

Dari gambar di atas tampak kurang dari separuh responden (43%) yang saleh menurut kriteria yang digunakan.

Menarik bahwa masyarakat muslim di Bali menempati peringkat tertinggi dalam hal kesalehan. Hal ini mungkin disebabkan karena jumlah sampel muslim di Bali relatif sedikit dibandingkan di provinsi lainnya. Namun angka korelasi tidak mendukung hipotesis ini (0,03). Kemungkinan yang lebih masuk akal adalah karena warga muslim di Bali adalah minoritas: korelasi antara proporsi warga muslim dengan kesalehan adalah sebesar -0,44, yang artinya tingkat kesalehan relatif tinggi di provinsi dimana jumlah warga muslimnya sedikit.

Pertanyaan-pertanyaan yang menarik

Analisis singkat ini justru meninggalkan banyak pertanyaan daripada jawaban.

Misalnya, bagaimana dengan kesalehan yang tidak terkait dengan ritual keagamaan? Rohrbaugh & Jessor (1975), misalnya, membagi kesalehan dalam empat dimensi: ritual (contoh: berapa kali salat?), konsekuensial (seberapa penting agama sebagai petunjuk dalam berperilaku?), teologis (akidah/keyakinan kepada adanya Tuhan?), dan experiential (agama memberi rasa aman dalam hidup?).

Pertanyaan berikutnya terkait dengan ukuran yang digunakan: apakah tepat untuk menyejajarkan ibadah wajib (salat) dengan pengajian? Pengajian, walaupun penting, bukanlah ibadah sebagaimana yang diyakini banyak muslim. Bukankah lebih tepat apabila kedua ukuran ini dipisah? Misalnya, alih-alih digabung dengan frekuensi menghadiri pengajian, jumlah salat digabung dengan berapa kali berpuasa, membayar zakat, dan naik haji (jika datanya ada)?

Lalu bagaimana dengan provinsi lain yang proporsi muslimnya relatif kecil namun tidak tercakup dalam survei IFLS5? IFLS5 hanya mencakup 14 provinsi dengan hanya satu provinsi yang memiliki proporsi muslim <50% (Bali). Namun bagaimana dengan provinsi lain seperti Sulawesi Utara, Papua, dan Nusa Tenggara Timur yang tidak masuk dalam IFLS5?

Terakhir, kesalehan hanyalah sebuah ukuran, bukankah akan jauh lebih menarik untuk mencari tahu bagaimana kesalehan memiliki kaitan sebab-akibat dengan perilaku individu? Sebagai contoh, Hoffmann (2013) menemukan bahwa kesalehan tidak memiliki kaitan dengan perilaku prososial (contoh: trust/sikap saling percaya); namun bagaimana kaitannya dengan perilaku antisosial seperti spiteful behaviour?

Sebagai peneliti, saya memiliki keyakinan bahwa studi mengenai kesalehan ini masih akan terus relevan dan berkembang. Terutama apabila kesalehan dikaitkan dengan tindak kekerasan dan diskriminatif berbau agama akhir-akhir ini yang tampaknya tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk ini.


Daftar Pustaka

Hassan, R., 2007. On Being Religious: Patterns of Religious Commitment in Muslim Societies1. The Muslim World, 97(3), pp.437-478.

Hoffmann, R., 2013. The experimental economics of religion. Journal of Economic surveys, 27(5), pp.813-845.

Rohrbaugh, J. and Jessor, R., 1975. Religiosity in youth: A personal control against deviant behavior1. Journal of personality, 43(1), pp.136-155.

Advertisements
Categories: Islam
  1. No comments yet.
  1. October 29, 2016 at 12:36 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: