Home > Ekonomi > Kenapa skripsi seharusnya tidak diwajibkan

Kenapa skripsi seharusnya tidak diwajibkan

Sebagai satu puncak karya perjuangan mahasiswa di Indonesia, skripsi semestinya menjadi barang yang dibuat dengan sepenuh hati, dipoles terus menerus, dan disajikan dengan penuh rasa bangga. Namun demikian, acap kali saya mendengar (atas jangan-jangan hanya prasangka buruk?) bahwa skripsi kini hanya dilihat sebagai satu syarat kelulusan saja. Konsekuensinya, skripsi yang dipresentasikan saat sidang kadang tidak memenuhi standar minimal yang diharapkan dosen penguji. Jika terjadi demikian, si mahasiswa seakan bermain dadu dan berharap tim penguji yang muncul bukan terdiri dari sekumpulan dosen killer.

Tentu ada banyak sebab kenapa kualitas skripsi tidak memenuhi standar minimal yang diharapkan. Misalnya, dosen pembimbing terlalu asyik mroyek, mahasiswanya keasyikan bikin vlog, ada masalah dengan orang tua (atau pacar, mantan pacar, gebetan, mantannya pacar gebetan, …), dst. Namun kali ini saya hanya ingin fokus di satu hal saja: kewajiban menulis skripsi bagi sebagian mahasiswa di Indonesia. Berhubung saya ngga tau tentang ilmu pedagogik, penilaian kurikulum, assessment, dan semacamnya, maka saya akan menelaah isu ini hanya dari sisi yang saya cukup familiar: ilmu ekonomi. Sebelumnya saya harus meminta maaf karena saya mengasumsikan pembaca pernah belajar minimal pengantar ilmu ekonomi mikro.

Bagi mahasiswa yang akan menulis skripsi, waktu yang dihabiskan untuk menulis skripsi itu bisa dikategorikan sebagai barang normal (normal goods), barang buruk (economic bads), atau barang netral (neutral goods). Saya rasa agak ekstrem kalau menganggap waktu menulis skripsi masuk kategori barang buruk (orang lebih suka tidak menulis skripsi sama sekali), karena pasti ada manfaat—meskipun kecil—dari menulis skripsi. Lebih masuk akal jika berapa lama waktu dihabiskan untuk menulis skripsi itu adalah barang normal atau barang netral. Lalu apa bedanya? Kita lihat Gambar 1 di bawah ini.

skripsi1

Gambar 1. Skripsi barang netral

Jika lama belajar untuk skripsi (sumbu vertikal) adalah barang netral, maka tidak peduli berapa lama mahasiswa belajar, kepuasannya (indifference curve U) tidak akan bertambah (dari U1 ke U2 misalnya) jika waktu yang dihabiskan untuk kegiatan lainnya (sumbu horizontal) juga tidak bertambah. Andaikata si mahasiswa minimal harus belajar 1 jam per hari agar bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu, maka keputusan terbaik bagi dia adalah menghabiskan 1 jam menulis skripsi dan 23 jam untuk kegiatan lainnya (U3).

Lalu bagaimana kalau skripsi adalah barang normal? Prediksinya jelas: waktu yang dihabiskan untuk menulis skripsi akan lebih banyak (Gambar 2). Kenapa begitu? Karena mahasiswa menganggap waktu yang ia habiskan menulis skripsi juga memberi manfaat baginya. Mahasiswa yang melihat waktu belajar adalah barang normal adalah mereka yang memiliki mental lebih dari sekedar “sing penting lulus”. Dari perspektif dosen dan dunia akademik, mentalitas semacam inilah yang diharapkan.

skripsi2.png

Gambar 2. Skripsi barang normal

Oke, kesimpulan sementara: meskipun ada mahasiswa yang menganggap skripsi itu tidak penting, namun selama dia mau menghabiskan sedikit waktunya untuk belajar maka dia pasti bisa lulus. Namun berkaca dari pengalaman sebelumnya, lulus skripsi bukan berarti kualitasnya memenuhi standar yang diharapkan. Dari ini saja sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk bertanya kenapa skripsi harus diwajibkan jika hanya dengan sedikit usaha maka semua mahasiswa bisa lulus? Apakah upaya mencapai kualitas skripsi yang tinggi tidak menjadi pertimbangan?

Dari sini saya kemudian membuat argumen: “membuat skripsi sebagai barang mewah akan meningkatkan harga dari kegiatan di luar skripsi.”

Untuk mendukung argumen ini, kita lihat dua cara yang bisa dilakukan agar mahasiswa mau menambah jam belajarnya (yang kita asumsikan berujung pada kualitas skripsi yang lebih baik). Pertama, ubah seleranya. Bikin si mahasiswa mau menyadari bahwa skripsi itu harus diperjuangkan sungguh-sungguh. Jika ini terjadi, maka indifference curve bisa berubah dari yang berbentuk garis lurus (barang netral seperti di Gambar 1) menjadi barang normal (Gambar 2). Atau jika si mahasiswa sudah melihat jam belajar sebagai barang normal, maka indifference curve bisa berubah dari U menjadi U’ (Gambar 3). Pertanyaannya, apakah mewajibkan skripsi akan membuat selera si mahasiswa berubah? Saya tidak yakin.

skripsi3.png

Gambar 3. Selera berubah

 

Oleh karena itu kita masuk ke cara kedua yaitu dengan membuat skripsi menjadi lebih bernilai sehingga mahasiswa mau menambah jam belajarnya. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan membuat skripsi sebagai barang mewah, sebuah barang yang hanya mampu “dibeli” oleh mereka yang punya kualitas tertentu. Misalnya, skripsi hanya diizinkan kepada mahasiswa dengan rata-rata IPK>3,5 dan telah lolos sidang proposal skripsi. Jika mahasiswa melihat skripsi sebagai barang mewah, maka harga dari melakukan kegiatan di luar skripsi akan menjadi relatif lebih mahal. Akibatnya, budget line akan berputar dan titik keseimbangan akan bergeser dari a ke b (Gambar 4). Jam belajar akan bertambah, kualitas skripsi akan membaik.

skripsi4.png

Gambar 4. Skripsi barang mewah

Lantas bagaimana caranya membujuk mahasiswa agar mau menulis skripsi? Beberapa cara bisa ditempuh misalnya dengan memberikan akses data yang lebih luas, akses ke dana penelitian, sertifikat tambahan di luar ijazah, ikut serta sebagai pembicara seminar, dst. Sementara dari perspektif dosen yang membimbing lebih sedikit mahasiswa, tentu diharapkan perhatian yang lebih banyak sehingga proses mentoring bisa lebih baik lagi.

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. March 18, 2017 at 11:52 pm

    Pada grafik terakhir, bagaimana bisa perubahan harga relatif skripsi merotasi garis anggaran ? Bukankah dua sumbu pada grafik tersebut mencerminkan waktu dan jumlah maksimalnya masing-masing 24 jam ?

    • April 23, 2017 at 10:46 pm

      Perubahan harga merotasi garis anggaran, perubahan anggaran menggeser garis anggaran.

      “Bukankah dua sumbu pada grafik tersebut mencerminkan waktu dan jumlah maksimalnya masing-masing 24 jam ?” –> Lalu kenapa? Yang penting jumlah jam belajar dan jam kegiatan lain harus 24 jam.

      • May 7, 2017 at 3:27 am

        maksud pertanyaan saya begini : dua sumbu pada grafik tsb menunjukkan waktu yang digunakan untuk menulis skripsi dan kegiatan lainnya, bukan menunjukkan kuantitas (atau kualitas) skripsinya. Jika intercept dari budget line berubah karena garisnya berotasi, bukankah time endowmentnya jadi berubah juga?

  1. April 23, 2017 at 11:55 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: