Archive

Archive for April, 2013

Hermes diatas motor

April 7, 2013 Leave a comment

Saya biasanya ngga terlalu peduli dengan penampilan orang, namun sekali ini saya tergelitik untuk menulis kejadian sore tadi. Bukan kejadian yang istimewa, saya hanya melihat seorang perempuan, sendirian, naik motor, namun yang menarik dia mengenakan tas selempang dengan “Hermes” tertulis besar-besar.

Saya rasa pembaca sudah sedikit banyak tau lah merk Hermes ini, yang kalau asli harganya bisa ngalah-ngalahin harga motor yang dinaiki mbak-mbak tadi. Ini bukan kali pertama saya melihat tas atau aksesoris ber-merk premium yang dipakai di jalanan, di pasar, dan di bermacam keramaian lainnya. Apakah tas dan aksesoris ber-merk itu palsu? Entahlah, yang jelas ekspektasi saya seseorang yang memakai tas Hermes asli tak akan sembrono memakainya diatas motor, ditengah rintik gerimis seperti tadi.

Saya pribadi punya keyakinan bahwa karakter individulah yang menentukan pilihan aksesoris yang dikenakan. Coba lihat gambar dibawah ini, bagi banyak orang laki-laki ini tampak keren, dan orang yang tidak jeli akan mengasosiasikan “orang keren karena merokok.”

merokok = keren?

Padahal menurut saya, laki-laki ini—entah dia merokok atau tidak—dia tetap keren. Hubungan kausalitas antara “keren” dengan “merokok” menjadi kabur, inilah yang disadari sepenuhnya oleh produsen barang premium dan sering diabaikan oleh banyak konsumen. Marketing rules!

Kalau ada orang mencoba mendeskripsikan saya, saya yakin kata “modis” atau “keren” tidak akan masuk dalam deskripsi. Tapi saya akan memberanikan diri untuk memberi tips: if you are wearing branded goods, make sure that you look and behave worthy of that goods. Yah paling ngga kalo pake tas Hermes KW3 makenya jangan diatas motor, modal dikit naik taksi biar kesan magis Hermes ga sia-sia kena guyuran air hujan…

Advertisements
Categories: Seni dan budaya

Deadline

April 1, 2013 Leave a comment

Hampir dua jam saya menyeruput kopi tarik sedikit demi sedikit di warung kopi di lingkungan Kalibata ini. Awalnya saya hanya ingin menghindari terjebak didalam kamar akibat pemadaman 3 jam yang telah dijadwalkan PLN (yang ternyata tidak terjadi).

Buku yang saya bawa: Cerita di Balik Dapur Tempo. Berbagai tulisan singkat para punggawa majalah berhasil menyita satu jam waktu saya, dan kopi masih tersisa 1/2 cangkir. Tulisan terakhir yang saya baca tentang “Catatan Pinggir” yang secara rutin ditulis tiap minggu oleh Goenawan Mohamad selama 40 tahun. Ditanya kenapa GM bisa konsisten menulis Caping selama puluhan tahun, dengan entengnya dia menjawab, “deadline.”

Ya, deadline adalah suatu bentuk imajiner yang bagi saya punya makna sama pentingnya dengan passion, semangat, dalam bekerja. Contoh kecilnya, pada bulan-bulan terakhir di Australia saya sangat gemar menulis di blog ini, dan saya merasa ini karena passion saya dalam menulis atau berbagi temuan/pemikiran. Tapi sepulang ke Indonesia justru produktivitas menulis jadi anjlok, passion tetap ada namun tiadanya deadline membuat ide-ide tak kunjung muncul.

Hal serupa terjadi saat membikin slide bahan kuliah. Saya berkomitmen pada diri sendiri untuk membuat slide presentasi kuliah untuk dijadikan bahan ajar tiap minggunya. Ini artinya tiap minggu ada 4 deadline yang mesti saya taati. Deadline juga membuat saya membaca bahan bacaan diluar buku teks: keinginan saya untuk mengambil contoh-contoh yang menarik memaksa saya membaca banyak artikel jurnal agar bisa dimasukkan dalam slide kuliah.

Deadline adalah bentuk imajiner yang bisa dibikin oleh diri sendiri atau oleh orang lain. Menurut pengalaman pribadi dan dari bacaan mengenai keterbatasan kognitif manusia, deadline yang dibikin diri sendiri punya kecenderungan untuk dilanggar. Istilahnya, aturan dibuat untuk dilanggar. Ini membuat konsekuensi pelanggaran deadline yang harusnya merupakan “credible threat” menjadi “non credible threat“. Tidak ada insentif untuk menepati deadline, ada carrot tapi tidak ada stick. Inilah kenapa “resolusi tahun baru” kerap dilanggar , bahkan kurang dari sebulan setelah tahun baru. Oleh karena itu, agar sebuah deadline menjadi kredibel kadang mesti di-enforce oleh pihak luar.

Jadi apa deadline-mu hari ini?

Categories: Ekonomi
LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya