Home > Seni dan budaya > Ke toko buku? Tidak, terima kasih…

Ke toko buku? Tidak, terima kasih…

Salah satu aktivitas favorit saya waktu kecil adalah jalan-jalan ke toko buku Gramedia. Biasanya saya dibonceng tante naik motor trus dikasih uang yang cukup buat beli 2-3 buku, menyenangkan sekali! Kebiasaan menyambangi toko-toko buku terus berlanjut hingga kuliah namun menjadi surut sesudahnya, apa yang berubah?

Adalah tumpukan buku tak terbaca yang menjadi penyebabnya. Baru setelah saya bekerjalah saya menyadari begitu banyaknya buku-buku tebal (dan tipis) yang berjejer rapi di rak, dengan kertas-kertas yang masih perawan belum tersentuh jemari. Seketika itu saya langsung menyadari ada yang salah: it’s the pleasure from BUYING rather than READINGĀ books that’s wrong.

Saya merasa blunder ini diawali pada masa-masa kuliah. Derasnya arus informasi dari teman, dosen, maupun dari media yang difasilitasi dengan harga buku yang murah (apalagi jika difotokopi!!) memberi insentif untuk terus menerus menumpuk buku tanpa ada waktu untuk membacanya. Apalagi kini makin banyak ebooks yang bisa diunduh gratis–dengan membajak tentunya! Pun demikian, buku-buku yang terbaca acap kali hanya dibaca sekilas tanpa mencoba memahami latar belakang atau mencari pesan yang tersirat didalamnya.

Karena itulah kini saya mulai selektif dalam memilih, sudah bukan zamannya lagi (bagi saya) untuk random browsing di toko buku. Membeli secara online dari abebooks atau bookdepository kini menjadi pilihan utama. Membuat highlight di buku juga sudah bukan hal yang haram lagi, karena buku yang kucel—karena dibaca tentunya, bukan karena diinjek-injek—adalah pujian tertinggi bagi sebuah buku!

Advertisements
Categories: Seni dan budaya Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: