Home > Ekonomi > Framing

Framing

Minggu lalu striker Arsenal Olivier Giroud mencetak dua gol cantik ke gawang Fulham di English Premier League. Pada pekan yang sama Marouanne Fellaini dari Everton juga mencetak gol saat melawan Sunderland. Apa hubungan kedua pemain ini?

Giroud, “Merci mon Dieu!”

Well, pada minggu-minggu awal bermain Fantasy Football Premier League, saya memakai dua pemain ini di line up skuat saya. Tapi akibat cedera (ringan) dan performa yang tak kunjung membaik saya memilih melepas mereka dan mengganti dengan pemain lain yang lebih oke. Andai saya tetap mempertahankan kedua pemain ini—dan beberapa pemain lain seperti Robin van Persie yang pernah saya beli dengan harga murah—tentu skor saya di liga fantasi ini bisa lebih tinggi. Nah ternyata pengalaman saya ini berkait erat dengan framing (penggambaran masalah).

Dalam decision theory ada dua jenis framing: narrow framing dan broad framing. Narrow framing artinya masalah dilihat dalam konteks yang sempit. Misalnya, kita diminta ikut dalam satu taruhan dimana kita bisa menang Rp1 juta atau kalah Rp500 ribu (dengan peluang yang sama besar). Atau dalam kasus kita, apakah dalam minggu ini saya perlu melepas Olivier Giroud (yang punya banyak kualitas sebagai striker) dan mengganti dengan pemain lain yang sedang hot (meski kualitasnya secara keseluruhan masih dibawah Giroud).

Sebaliknya, dalam broad framing kita melihat masalah secara lebih luas, bird’s eye view, zoom out. Misalnya, jangan terkecoh dengan penampilan Giroud yang masih memble—ingat dia di top scorer di Liga Prancis tahun lalu—jadi mestinya dia dipertahankan. Jadi kalau di narrow framing kita gampang gelisah melihat fluktuasi performa pemain maka di broad framing kita relatif tenang karena kita menarik data yang lebih panjang.

Kalau yang ini zoom in, bukan zoom out

Nah tentu soal framing ini tak cuma bisa diterapkan di liga fantasi. Di percintaan misalnya, uhuk, tak usah galau terlalu lama jika kita ditolak calon pacar kalau kita yakin dengan kualitas yang ada di diri kita. Atau jangan takut deketin cewe hanya karena takut ditolak, anggap saja itu hanya satu dari sekian gamble lain yang bakal kita temui di hidup kita. Pertanyaannya, apakah ada aturan tentang apakah kita mesti maju atau tidak? Apakah saya mesti nembak cewe ini? Apakah saya mesti menjual Olivier Giroud dan mengganti dengan pemain lain?

Daniel Kahneman dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menyarankan beberapa aturan sebagai berikut saat kita dihadapkan pada pilihan yang punya potensi menguntungkan:

  1. Pilihan yang diambil mesti independen terhadap pilihan lain. Misalnya, sebaiknya jangan coba-coba deketin adiknya sahabat kamu. Atau lebih baik jangan menjual pemain dari klub yang hampir degradasi dan mengganti dengan pemain dari klub yang sama. Kalau pilihan-pilihan yang ada ternyata saling berkait maka jika yang satu gagal maka yang lainnya gagal juga (baca: jika kita ditolak adik sahabat maka ada kemungkinan hubungan dengan si sahabat bakal renggang).
  2. Apapun hasil dari pilihan ini mesti tidak membuatmu khawatir terhadap hidupmu secara keseluruhan. Misalnya jangan berinvestasi habis-habisan memakai semua hartamu, karena kalau akhirnya gagal itu justru membuat hidupmu jadi jauh lebih buruk.
  3. Jangan bertaruh untuk sesuatu yang ekstrem. Boleh lah kita berharap kenalan sama Melody JKT48 tapi kalau lalu berharap jadi pacarnya kok ya agak gimana…

Tentunya sebelum memakai tiga aturan dasar diatas kita mesti bisa menilai diri sendiri, seberapa besar kualitas kita, seberapa banyak modal yang kita punya, apa saja yang dipertaruhkan, apa saja alternatif yang ada, apa untung/rugi dari tiap alternatif itu, dan apa kira-kira dampaknya. Nah setelah kita mempertimbangkan tiga aturan tadi (plus informasi tambahan lainnya) maka bolehlah kita ambil risiko itu.

Ah andai saja saya dulu tetap memakai RvP, Giroud, dan Fellaini!

Advertisements
  1. lilac
    March 18, 2013 at 7:42 am

    itu bazoka apa lensa? wkwkwkwk mansaffffff

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: