Home > Politik dan sejarah > Antara Mussolini, Hitler, Boumédienne, dan Aidit

Antara Mussolini, Hitler, Boumédienne, dan Aidit

Gara-gara terlalu banyak menonton dan membaca film/buku dokumenter sejarah saya menemukan pola yang unik dalam sejarah dunia dan Indonesia. Mari kita mulai dari March on Rome-nya Mussolini.

Mussolini berparade menuju kota Roma

Pada Oktober 1922 Benito Mussolini—yang pada waktu itu belum menjadi penguasa Italia—melakukan march (parade) bersama 30 ribu pendukungnya. Dia masuk ke ibukota Roma dan memaksa pengalihan kekuasaan dari Perdana Menteri Luigi Facta ke dirinya sendiri.

Setahun kemudian, aksi March on Rome ini menginspirasi Adolf Hitler dalam Beer Hall Putsch pada tahun 1923 yang berakhir dengan kegagalan. Beer Hall Putsch ini serupa dengan March on Rome dimana Hitler, bersama ratusan pendukungnya, mendobrak masuk gedung tempat Perdana Menteri Bavaria Gustav von Kahr yang sedang berorasi. Namun aksi ini hanya seumur jagung, dalam waktu kurang dari 3 hari polisi berhasil mengamankan Hitler dkk. Selama dalam penjara Hitler menyadari bahwa revolusi tidak bisa hanya dengan melakukan parade, melainkan mesti melalui jalur konstitusi. Pada 1932 Hitler naik tahta setelah partainya menang mutlak dalam pemilu.

Hitler didalam Beer Hall

Sekarang kita lompat ke Aljazair 33 tahun seusai Hitler naik tahta. Pada tahun 1965 Houari Boumédienne yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Aljazair memaksa Presiden Ben Bella untuk menyerahkan kekuasaan tanpa pertumpahan darah. Boumédienne lalu memimpin Dewan Revolusi yang beranggotakan 26 orang dan terus menjabat posisi ini hingga wafatnya pada tahun 1978.

Jauh di seberang lautan, seorang anak muda yang mengetuai salah satu partai terbesar di Indonesia mendapat inspirasi dari aksi ini. Meski bagi Dipa Nusantara Aidit kup militer semacam ini bukan hal yang baru, namun kudeta yang dilakukan Boumédienne memiliki corak yang khas dimana suatu aksi revolusi bisa sukses jika mendapat dukungan rakyat, kudeta progresif. Meski masih banyak benang kusut yang belum terurai, John Roosa dalam bukunya “Dalih Pembunuhan Massal G-30-S” berspekulasi bahwa Aidit mendapat ilham tentang Dewan Revolusi dari aksi Boumédienne ini. Sejarah kemudian mencatat kegagalan Aidit dan Dewan Revolusinya dalam gerakan 30 September yang kelam.

Lalu apa benang merah yang bisa kita tarik dari kisah empat orang ini?

Pertama, replikasi hanya akan membuahkan petaka. Baik Hitler maupun Aidit yang mencoba mereplikasi aksi Mussolini dan Boumédienne sama-sama berakhir dengan kegagalan. Selain konteks yang berbeda antar negara, saya melihat aksi revolusi bersifat unik. Karena keunikannya itu maka penguasa yang ada saat ini bisa belajar dari sejarah dan sudah siap mengantisipasi aksi yang serupa.

Kedua, implikasi lainnya adalah pentingnya membuat suatu aksi yang berbeda, yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Misalnya aksi Arab Spring memanfaatkan jaringan sosial media untuk mendapatkan momentum revolusi. Ini yang membuat Arab Spring unik. Studi psikologi menunjukkan bahwa orang cenderung membesar-besarkan hal kecil, namun jika hal kecil itu terlalu kecil (misalnya karena belum pernah terjadi) maka orang cenderung mengecilkan kemungkinan itu akan terjadi. Karena itu penting untuk selalu mencoba hal yang unik karena efek kejutannya besar.

Ah tapi saya kan bukan sejarawan, jangan terlalu percaya ya!

Advertisements
Categories: Politik dan sejarah
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: