Home > Ekonomi > Membidik Orang Miskin (Metodologi)

Membidik Orang Miskin (Metodologi)

Melanjutkan seri-seri sebelumnya tentang Membidik Orang Miskin, kali ini saya ingin membagi tentang bagaimana penelitian Vivi Alatas dkk ini dilakukan. Kata kuncinya: randomized control trial (RCT).

Randomized Control Trial

RCT pada mulanya dilakukan oleh para peneliti ilmu pasti, terutama ilmu kedokteran, dimana mereka membagi sampel penelitian (misalnya pasien) secara acak antara mana yang diberi perawatan khusus dan mana yang tidak. Bayangkan perawatan khusus ini adalah obat yang sedang diuji coba. Tujuannya agar ada sampel pembanding yang adil antara mereka (pasien) yang diberi perawatan dan yang tidak diberi perawatan.

Pertanyaan: kenapa mesti dilakukan secara acak? Bayangkan dua kemungkinan ini:

  1. Jika peneliti yang menentukan siapa yang diberi perawatan, bagaimana kita tahu bahwa penentuan ini adil? Bagaimana kita tahu si peneliti tidak pilih kasih?
  2. Begitu pula jika kita serahkan kepada pasien untuk menentukan apakah mereka mau diberi perawatan khusus ini atau tidak. Bagaimana kita tahu dampak dari perawatan ini jika ternyata pasien yang diberi perawatan berperilaku berbeda—misalnya jadi lebih aktif—bukan karena perawatan itu tapi karena ada hal-hal lain (misalnya efek psikologis)?

Nah pembagian sampel secara acak memastikan tiadanya kekhawatiran diatas.

Dalam penelitian ini, urutan pembagian acak adalah sebagai berikut:

  1. Membagi 640 dusun (yang ada dalam 51 strata geografis) kedalam 3 kelompok eksperimen: PMT, community targeting, dan hybrid. Dalam pembagiannya harus proporsional antara 51 strata geografis itu, artinya sebisa mungkin seluruh dusun yang ada dalam 1 strata 1/3-nya adalah kelompok PMT, 1/3 kelompok community targeting, dan 1/3 kelompok hybrid.
  2. Khusus untuk community targeting dan hybrid, sampel dibagi lagi menurut beberapa subtreatment, misalnya dusun yang dalam musyawarahnya hanya diikuti oleh elit/pejabat dusun. Lagi-lagi pembagiannya juga mesti proporsional.

Pengumpulan data dan estimasi

Setelah dusun-dusun ini dibagi, kemudian peneliti melakukan survey pertama (baseline), survey hasil, survey khusus untuk kelompok community targeting dan hybrid, dan survey penutup (kepuasan masyarakat).

Setelah semua data terkumpul, peneliti tinggal “membersihkan” data dan melakukan estimasi statistik/ekonometrik. Tidak usah membayangkan model ekonometri yang aneh-aneh, mereka “hanya” memakai ordinary least square alias OLS! (Untuk yang belum pernah mendengar istilah OLS, metode ini adalah metode ekonometri/statistik terapan yang paling sederhana dan diajarkan di tahun kedua kuliah S1 di hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia.) Metode statistik yang dilakukan pun sederhana, hanya menampilkan rata-rata dan standar deviasi, dan terkadang membagi sampel berdasarkan tingkat pendapatan.

Tentu dalam pelaksanaannya estimasi OLS ini tidak hanya sekali dilakukan, peneliti melakukan beberapa estimasi sesuai kebutuhan. Misalnya, untuk mengetahui apakah ada pengaruh kedekatan dengan elit/pejabat dusun, dilakukan estimasi dengan memasukkan variabel “Elite connectedness“ (lingkaran merah di gambar dibawah) lalu menginteraksikan variabel ini dengan apakah responden itu tinggal di dusun yang masuk kelompok community treatment (lingkaran biru). Lihat gambar dibawah.

Angka -0.078** (lingkaran hijau) artinya: jika responden dekat dengan pejabat dusun (Elite=1) dan dia di kelompok community targeting (community treatment=1), maka kemungkinan dia masuk daftar penerima BLT justru turun (hubungannya negatif), dan hubungan ini signifikan (karena itu ada 2 tanda bintang).

Begitu pula untuk mengetahui apakah penilaian subjektif akan tingkat kesejahteraan memiliki kaitan dengan terpilih/tidaknya dalam daftar penerima BLT. Baris pertama dalam gambar dibawah adalah rank correlation dari ukuran-ukuran kesejahteraan yang sifatnya subjektif, sementara kolom pertama menunjukkan kelompok dusun (hybrid atau community targeting). Ambil saja contoh angka 0.102*** (lingkaran hijau): jika responden tinggal di dusun community targeting, maka kemungkinan dia rankingnya tinggi (yaitu tidak termasuk golongan miskin) justru tinggi pula. Implikasinya, tidak masalah jika seseorang memiliki ukuran kemiskinan sendiri (subjektif), karena ternyata ranking subjektifnya itu berkorelasi positif dengan ukuran yang dipakai dalam eksperimen.

Secara keseluruhan, para peneliti menekankan pada pengumpulan data yang valid, untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan kualitasnya tinggi. Selain itu, peneliti juga menekankan pada perlunya kehati-hatian dalam membuat suatu pernyataan, hampir setiap kalimat yang ada di artikel ini ditunjang dengan data dan argumen yang kuat. Tentu ada ketidaksempurnaan disana-sini, ada hasil-hasil estimasi yang tidak signifikan, dan hasil yang ditampilkan bisa diterjemahkan berbeda oleh peneliti yang berbeda. Karena itu saya mengajak pembaca untuk secara kritis membaca artikel ini dan, jika perlu, melakukan otak-atik data yang mereka kumpulkan. (Data tersedia di website jurnal American Economic Review, silakan download sendiri atau hubungi saya untuk data mentahnya.)

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: