Home > Ekonomi > Membidik Orang Miskin (Ringkasan) – Bagian 2 (terakhir)

Membidik Orang Miskin (Ringkasan) – Bagian 2 (terakhir)

Tulisan ini melanjutkan artikel sebelumnya yang diambil dari makalah Vivi Alatas, Abhijit Banerjee, Rema Hanna, Benjamin Olken, dan Julia Tobias Targeting the Poor: Evidence from a Field Experiment in Indonesia yang diterbitkan oleh jurnal terkemuka American Economic Review pada Juni 2012 lalu.

Para peneliti ini menemukan bahwa meskipun ada perbedaan akurasi (dari tiga metode yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa yang layak mendapatkan BLT), namun ternyata prediksi dampaknya terhadap tingkat kemiskinan tidak jauh berbeda. Ini bukan berarti akurasi tidak penting, justru sebaliknya, pemerintah mesti memastikan akurasi penerima BLT tanpa mempedulikan metode mana yang dipakai.

Nah, terkait dengan community targeting (dimana masyarakat yang menentukan siapa yang layak mendapat BLT), sebagian pembaca mungkin berprasangka bahwa pejabat/elit desa/dusun bisa mengambil untung. Misalnya dengan memasukkan nama kerabatnya kedalam daftar mereka yang layak menerima BLT. Hasil penelitian menunjukkan sebaliknya: jika Bapak A memiliki hubungan kekerabatan dengan kepala dusun, misalnya, maka kemungkinan Bapak A ini masuk dalam daftar penerima BLT justru kecil! Ini tentu agak melegakan bahwa apa yang banyak diprasangkakan ternyata tidak sepenuhnya benar. Prasangka lain yang kadang muncul namun tidak terbukti adalah adanya diskriminasi atas etnis minoritas dalam menerima BLT.

Kemiskinan subjektif

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM Amelia Meika SSos MA mengatakan bahwa, ’’Seseorang hidup dalam rumah tangga memiliki pendapatan atau pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan justru tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak miskin.’’

’’Saat mereka berada pada level kesehatan tertentu dan bisa melakukan berbagai kegiatan, maka akan mengganggap dirinya bukan termasuk orang miskin,’’ jelasnya.

Sumber: Mengukur Kemiskinan Butuh Perhatian Cermat 

Pembahasan di bagian pertama dan di sebagian artikel ini memakai pendapatan per kapita sebagai tolok ukur kemiskinan. Tentu sebagian masyarakat punya penilaian sendiri apakah dirinya termasuk kaum miskin atau tidak. Penelitian ini lalu mencoba memakai beberapa alternatif ukuran kesejahteraan berdasarkan pendapat orang itu sendiri, berdasarkan pendapat orang lain yang tinggal dalam satu dusun, dan berdasarkan pendapat elit/pejabat dusun.

Studi yang dilakukan peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat ini menemukan bahwa meskipun seseorang memiliki ukuran kemiskinan sendiri, namun hal ini ternyata tidak membuat dirinya lebih pantas masuk kedalam kategori layak menerima BLT. Jadi pendekatan musyawarah melalui community targeting (baik yang dihadiri masyarakat luas atau hanya sejumlah elit/pejabat dusun) tidak bertentangan dengan penilaian subjektif atas kemiskinan.

Hasil-hasil penelitian diatas memberi cukup pemahaman tentang proses dan dampak dari berbagai metode mengidentifikasi rakyat miskin. Sebagian pembaca yang kritis tentu bertanya-tanya bagaimana penelitian ini dilakukan, bagaimana metodologinya, apakah datanya valid? Tunggu seri selanjutnya dari “Membidik Orang Miskin” edisi Metodologi yang akan datang!

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: