Home > Ekonomi > Membidik Orang Miskin (Ringkasan) – Bagian 1

Membidik Orang Miskin (Ringkasan) – Bagian 1

Sedikitnya 20 orang warga Desa Karang Tengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Senin (21/7), protes kepada kepala desa setempat karena tak ikut diberi bantuan langsung tunai atau BLT.

Menurut salah seorang warga yang protes, Waryan Tian Hidayat (30), para warga juga merasa keberatan karena ada pengalihan penerima BLT yang tak adil. Dia memberikan contoh neneknya sendiri, Tarwi (70) yang kini hanya bisa menggantungkan kehidupan kepada anak dan cucunya. “Nenek saya yang sudah jompo seperti itu masih tidak layak menerima. Jatah BLT nya malah dialihkan ke orang yang lebih mampu,” lanjutnya.

Sumber: Puluhan Warga Protes Tidak Memperoleh BLT

Kacaunya pemberian BLT yang tidak tepat sasaran seperti yang diberitakan di atas adalah salah satu motivasi yang mendorong Vivi Alatas, Abhijit Banerjee, Rema Hanna, Benjamin Olken, dan Julia Tobias menulis artikel mereka yang berjudul Targeting the Poor: Evidence from a Field Experiment in Indonesia yang diterbitkan oleh jurnal terkemuka American Economic Review pada Juni 2012 lalu.

Empat ekonom dan satu pakar politik ini bekerja sama dengan pemerintah dan BPS mensurvey rumah tangga di 640 dusun di Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah dan melakukan eksperimen tentang bagaimana menyalurkan BLT yang tepat sasaran. Survey yang dilakukan relatif cepat: survey pembuka dilakukan Desember 2008 dan survey penutup pada Maret 2009, hanya empat bulan.

Untuk mengetahui akurasi pemberian BLT, mereka membagi 640 dusun ini secara acak kedalam 3 kelompok:

  1. Kelompok PMT (proxy means test). Setiap rumah tangga yang ada di dusun-dusun yang masuk di kelompok ini disurvey kondisinya, misalnya kondisi rumah, jenis atap, apakah memiliki kendaraan bermotor, dsb. Mereka kemudian memakai data yang didapat untuk menentukan siapa yang layak mendapat BLT. Jadi prosesnya top-down.
  2. Kelompok community targeting. Berbeda dengan PMT, dengan bantuan fasilitator, masyarakat bermusyawarah dan membuat ranking siapa yang layak mendapat BLT (bottom-up).
  3. Kelompok hybrid. Disini masyarakat membuat ranking siapa yang layak tapi kemudian pemerintah memverifikasi ranking ini berdasarkan data dari survey PMT.

Jadi dari tiap dusun tidak semua rumah tangga mendapat BLT. Nah, lalu mana yang lebih akurat dari berbagai cara penyaluran BLT di atas? Pemberian BLT dianggap akurat jika mereka yang diajukan baik oleh PMT atau community targeting atau hybrid memiliki konsumsi per kapita kurang dari PPP$2 per hari (masuk kategori miskin).

Untuk mengetahui akurasi metode pemberian BLT, harus dilakukan perbandingan dengan rumah tangga dari 640 dusun tadi yang tidak menerima BLT. Secara umum penelitian menunjukkan bahwa 32% pemberian BLT tidak tepat sasaran! Tidak tepatnya sasaran ini bisa karena: 1) ada orang yang layak mendapat BLT tapi nyatanya tidak, atau; 2) orang yang tidak layak mendapat BLT tapi ternyata mendapat bantuan.

Lalu dari tiga metode pemberian BLT tadi mana yang paling tidak akurat? Studi ini menunjukkan bahwa metode pertama (PMT) lebih akurat dari dua metode yang lain. Ini artinya pendekatan bottom-up atau hybrid belum tentu lebih baik dari pendekatan top-down yang selama ini dilakukan. Meski begitu, pendekatan community targeting (bottom-up) lebih akurat dalam mengidentifikasi mereka yang sangat miskin.

Lalu apakah metode-metode pemberian BLT yang berbeda tadi memiliki dampak yang berbeda terhadap tingkat kemiskinan? Bagaimana tingkat kepuasan masyarakat? Apakah ada KKN di tingkat desa/dusun? Bagaimana dengan ukuran kemiskinan yang subjektif? Silakan tunggu bagian 2 dari seri “Membidik Orang Miskin” ini.

Advertisements
Categories: Ekonomi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

LPDP VIC

it's between me and my thought

TwistedSifter

The Best of the visual Web, sifted, sorted and summarized

BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

MankyDaily

it's between me and my thought

The Yosodihardjo's Story Page

A Life Journal of Lelaki Jawa

Silva's journal of life

life - passion - motherhood - food & cooking

Subsymphonika's Blog

You Can't Stop A Story Being Told

hotradero

it's between me and my thought

Multiply Motulz

Used To Posted in Multiply

the journal

"I dont want to live in a hand-me-down world of others experiences. I want to write about me, my discoveries, my fears, my feelings, about me"

Biar sejarah yang bicara ......

Menggali jejak sukma nagara | Mengibas cakrawala mengepak mayapada | Melesatkan pikiran yang tak tembus peluru | Membiarkan hati bersuara | Karena masa lalu mereka adalah masa depan kami

INSAN BERBAGI

it's between me and my thought

Reading Mas-Colell

it's between me and my thought

New Economic Perspectives

it's between me and my thought

mainly macro

it's between me and my thought

Stochastic Trend

it's between me and my thought

Retas

Tentang bahasa dan pemanfaatannya

%d bloggers like this: